(kalimat tawadhu untuk hidup lebih bermakna)
(Sebuah Kajian psikologis dalam uncoscious mind)
Sewaktu penulis nyantri di AL-amien Sumenep Madura, wise word( kalimat bijak) ini begitu akrab didengar, ataupun dilihat oleh penulis, dalam acara muhadharah (pidato) yang dilaksanakan oleh pondok misalnya, semua dianjurkan untuk menggunakan wise word ini baik dalam khotbah atau ceramah-ceramah dalam penutupanya. Makna dari kalimat ini sangatlah dalam, saya sedikit susah untuk menjelaskannya, tapi yang jelas pernyataan dari wise word ini memberitahukan bahwa kita harus selalu tawadhu (merendah diri).
Dalam konvesional psiko-analis Sigmund Freud, bahwa secara struktural berpikir, otak dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar yakni:
pikiran sadar (conscious mind),
dan pikiran bawah sadar (unconscious mind).
Bila dilihat prosentasenya ,menurut psikolog ternama Tahun 1956 dari universitas Harvard, George A. Miller, pikiran sadar mampu menyerap jauh lebih kecil (12 persen) dibandingkan PBS (88 persen). Apa yang tersimpan dalam otak kita jauh lebih banyak dari pada apa yang kita gunakan saat ini.
Coolinng Wood (2005) menggambarkan hubungan antara Pikiran Sadar dengan Pikiran Bawah Sadar, ibarat sebuah ruangan gelap dan lampu senter. Sebuah ruangan gelap ibarat Pikiran Bawah Sadar; lampu senter (alat) sebagai Pikiran Sadar. Bila Anda masuk ke ruangan gelap tanpa alat bantu senter Anda akan terjebak dan tidak mampu menggambarkan isi keseluruhan ruangan tersebut. Berbeda dengan bila Anda menggunakan alat bantu senter, Anda tidak akan terjebak dan segera mendapatkan bentuk dan deskripsi ruangan tersebut.
Baik pikiran sadar atau pikiran bawah sadar, mekanisme kerja keduanya saling menggantikan, jika pikiran sadar aktif, maka pikiran bawah sadar harus dinonaktifkan, begitu pula sebaliknya, selalu mengisi mana yang bekerja dan mana yang harus dinonaktifkan. Pikiran sadar dan pikiran bawah sadar sama-sama mempunyai sisi positif ataupun negaif, jika kita terampil dalam mengelolanya insya Allah dijamin kita dapat menjalani hidup dengan nyaman. Saya ambil contoh kecilnya, seperti kita sedang sholat, pikiran bawah sadar kita tidak boleh menginterupsi, jika kita biarkan maka kosentrasi kita akan buyar (sholatnya nggak khusyuk). Yang sering juga dalam perkuliahan ketika asyik mendengarkan pemaparan dari dosen tiba-tiba pikiran melayang (ingat janji dengan pacar lah, hutang, masalah tugas, dll) sebagai hasil interupsi dari pikiran bawah sadar. Bila Anda belum terampil mengendalikan sang interuptor tadi, tidak saja Anda menjadi sulit berkonsentrasi tetapi bisa fatal dalam menjalani hidup.
Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, tidak ada di dunia ini manusia yang selalu benar.
Sungguh ruh dari kalimat ini benar-benar menyentuh , mungkin kita adakalanya benar dalam mengolah informasi conscious mind (pikiran sadar), tapi bagaimana dengan informasi yang didalam unconscious mind..? boleh jadi seseorang bangga dengan potensi yang dimilikinya (keintelektualan, kekayaan, pangkat, dll) dari hasil kerja sebuah pikiran sadarnya. tapi sehebat apapun seseorang itu, sungguh masih lemah dan lengah oleh sang interuptor yang bersumber dari pikiran bawah sadarnya. bisa jadi ketika seorang yang dibakar cemburu karena pujaan hatinya jalan dengan orang lain, karena pikiran bawah sadarnya mengatakan bahwa jalan dengan orang lain adalah kesalahan, bisa-bisa persoalan yang semestinya bisa dibicarakan baik-baik menjadi baku hantam yang tidak kita inginkan semua (badan sakit semua capek lagi) padahal sang pacar lagi jalan-jalan sama kakaknya.(gedubrakkkk)
Berapa lamakah kita dapat menggunakan pikiran sadar kita? Sang interuptor bisa datang setiap saat.
Pikiran Sadar kita tidak akan mampu mengunci rapat-rapat Pikiran bawah sadar untuk tidak menjadi interuptor. Ketidakmampuan dalam mengelola sang interuptor dalam bahasa kerennya adalah khilaf. Semua itu bisa terjadi bila sang interuptor yang berasal dari pikiran bawah sadar tidak bisa dikendalikan dan dikelola secara baik.
Barangkali itulah secara neurologis mengapa para founding father kalimat bijak ini dengan sangat bijak menganjurkan supaya kita senantiasa bertawadhu (merendah diri). Paling tidak agar kita tidak lupa atau khilaf, yang menunjukkan kita tidak ada apa-apanya dengan alam semesta ini. Hanya dengan tawadhu dan berdoa hidup lebih akan lebih bermakna dan terhindar dari kesombongan intektual.
Sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa tawadhu dan berdo’a adalah cara terbaik agar kita tidak mudah lengah dan hanyut oleh interuptor. Entah anda tawadhu dan berdo`a atau tidak Tuhan tidak dirugikan oleh umatnya, tapi anda sendirilah yang rugi, bisa jadi anda akan dibenci oleh sosial. Manusia diberi sifat lupa, lengah dan khilaf. Maka berdo’alah kepada Tuhan agar sifat lupa, lengah, dan khilaf tidak menjebak diri kita. Dan tawadhu (merendah diri) adalah satu-satunya ikhtiar kita.
Tawdhu adalah ikhtiar kita dalam conscious mind yang dalam yakni emotional sedangkan doa adalah ikhtiar kita dalam unconscious mind yang paling dalam yakni spritual.
Semoga apa yang kita kerjakan dan apa yang akan kita kerjakan menjadi manfaat bagi orang lain dan mendapatkan pahala-NYA.
Mengambil kata bijak dari seorang ustad di Pare-Kediri (ust. Salman) sewaktu penulis juga nyantri di Al Farisi,beliau berkata:
Kesimpulaya: Orang bingung lalu bertanya, kategorinya adalah dia setengah paham atau setengah tidak, dan sebaliknya orang diam bisa dikategorikan benar-benar paham atau benar-benar tidak paham (lebih sulit untuk ditebak).
Mari kita berbagi manfaat dalam kasus ini, mohon untuk menuliskan pendapat atau komentar anda semua, dengan sopan tentunya.!
Seperti judul diatas Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini,
Saya al fakir dan dhoif
zen naqsyal
0 komentar:
Posting Komentar
salam senang selalu